/Serunya Wisata Anti-Mainstream di Pasar Tradisional Korea Selatan

Serunya Wisata Anti-Mainstream di Pasar Tradisional Korea Selatan

Jika Korea Selatan ada dalam salah satu bucket list liburan kamu, tak ada salahnya untuk mencoba berpetualang dalam hiruk pikuk pasar tradisional. Ya, kamu bisa merasakan kearifan lokal sekaligus berinteraksi dengan warga setempat saat berkunjung ke tempat anti-mainstream seperti pasar tradisional.

Meski namanya ‘pasar tradisional’, tetapi pasar di Korea Selatan jauh dari kesan kumuh, becek, atau bau. Pasar tradisional di sana tertata cukup rapi, bahkan mereka memiliki ‘CEO’ atau pengelola pasar yang memastikan kegiatan jual-beli di pasar berlangsung nyaman, baik untuk warga lokal maupun turis asing.

kumparanTRAVEL berkesempatan menikmati keseruan berwisata di pasar tradisional Korea Selatan. Dalam kunjungan ke sana, kami mendatangi dua pasar tradisional, Romantic Market di Chuncheon dan Tongin Market di Seoul.

Kedua pasar ini memiliki perbedaan yang signifikan dan sangat unik. Namun, tentu tetap menarik untuk dikunjungi dan bisa memberikan pengalaman tak terlupakan saat berkunjung ke Korea Selatan.
Yuk, simak keseruan berkunjung ke pasar tradisional di Korea.

1. Romantic Market, Chuncheon

Romantic Market atau pasar romantis berada di Chuncheon, sebuah kota yang berada di Timur Seoul, tepatnya di Provinsi Gangwon. Seperti pasar tradisional umumnya, ada banyak barang-barang dan kebutuhan sehari-hari yang dijual di sini. Pakaian, sepatu, sayur-mayur, lauk-pauk, hingga obat-obatan tradisional ada di pasar yang sebelumnya bernama ‘Jungang Market’ ini.

Menariknya, di bagian depan pasar kamu bisa menemukan sebuah patung perunggu dari dua tokoh utama dalam drama Korea, ‘Winter Sonata’, Kang Joon Sang (diperankan Bae Yong Joon), dan Jung Yu-jin (diperankan Choi Ji Woo). Patung ini dibuat setelah popularitas drama tersebut mendunia dan menjadi salah satu ‘pintu’ pembuka bagi penyebaran budaya pop di luar Korea Selatan.

Chuncheon sendiri memang menjadi salah satu tempat syuting dari drama yang juga pernah tayang di Indonesia ini. Nama ‘Romantic Market’ juga tak lepas dari unsur romantis yang memang sudah lama menjadi ikon kota tersebut di kalangan masyarakat Korea Selatan, ditambah popularitas dari drama cinta ‘Winter Sonata’.

Banyak wisatawan yang datang ke Chuncheon untuk merasakan ‘romantisme’ kota tersebut. Saat berkunjung, wisatawan lokal maupun mancanegara pastinya tidak akan melewatkan kesempatan untuk berfoto di patung tersebut.

Hal menarik lainnya, di tengah pasar terdapat studio kecil, tempat DJ radio memutarkan beragam lagu pop, klasik, dan lagu permintaan pendengar. Ada lampu-lampu disko yang digantung di atas langit-langit pasar. Kabarnya, lampu-lampu tersebut akan dinyalakan pada malam hari, saat DJ memutar lagu-lagu asyik untuk berjoget. Sayangnya, saat kami berkunjung, radio tersebut tidak sedang on air.

Jika Anda berkunjung ke Romantic Market ini, jangan harap bisa menemukan barang-barang khas yang bisa dibeli turis. Kebanyakan, barang-barang yang dijual memang untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.

Namun jangan khawatir, di sekitar pasar terdapat restoran-restoran yang menjual Dakgalbi (pan fried chicken), atau ayam yang dipanggang di atas wajan besar. Makanan ini juga merupakan ciri khas dari kota Chuncheon, yang tentu bisa mengobati kekecewaan wisatawan, jika tidak bisa menemukan barang khas setempat yang ingin dibeli.

Ayam dengan porsi tertentu dimasak bersama kol dan daun bawang, juga rice cake, atau tteokbokki, ditambah saus merah Gochujang yang menjadi ciri khas masakan Korea. Satu porsi besar Dakgalbi ini bisa dinikmati oleh 4-5 orang.

2. Tongin Market, Seoul

Jika kamu tidak punya banyak waktu untuk pergi terlalu jauh, Tongin Market bisa menjadi pilihan pasar tradisional untuk dikunjungi. Pasar ini terletak di Seoul dan sangat dekat dengan tempat wisata lain, seperti Cheongwadae (Blue House atau Istana Presiden Korea Selatan), Cheongwadae Saranghae (bagian dari Blue House yang dibuka untuk umum), juga Seochon Village.

Hal yang menarik dari pasar tradisional ini, kamu bisa merasakan berbelanja dengan menggunakan uang kuno, sekaligus berburu makanan tradisional Korea. Untuk mendapatkannya, di bagian depan pasar terdapat kantor atau loket pembelian koin. Minimal pembelian koin adalah seharga 5 ribu won atau setara dengan Rp 68 ribu, dan kamu akan mendapat sekitar 10 koin kuno untuk berbelanja.

Selain mendapat koin, kamu juga akan mendapat tray makanan dari bahan plastik, yang digunakan untuk menampung makanan yang dibeli. Ada banyak makanan tradisional yang bisa dicicipi. Mulai dari jajanan pasar, seperti tteokbokki dengan aneka rasa, kkimbap, hobak jun (zucchini yang digoreng dengan tepung), atau jeon (pancake sayuran khas Korea).

Di setiap toko penjual memiliki papan tanda yang menunjukkan jika kamu bisa membeli makanan, dengan uang koin yang dipunya. Jika toko tersebut tidak memiliki tanda, maka koin tidak bisa digunakan. Harga setiap makanan juga bervariasi, 1-3 koin. Jika koin tidak cukup, kamu bisa menggunakan uang Won untuk membeli makanan di sana.

Di tengah pasar juga terdapat sebuah tempat, seperti kantin dengan dua lantai, yang bisa digunakan untuk menikmati makanan yang dibeli. Jangan coba-coba untuk makan satu tray beramai-ramai di kantin ini, kamu akan diusir oleh staf di sana. Mereka hanya mengizinkan, satu tray untuk satu orang, jika kamu ingin makan sambil duduk.

Jika sedang ramai, makan di kantin ini memang sedikit tidak nyaman. Pasalnya, kamu akan makan terburu-buru, karena harus memberikan kesempatan duduk pada pengunjung lain. Self service juga menjadi bagian penting di kantin ini. Selesai makan, kamu harus membawa sampah makanan sendiri dan diletakkan pada tempat yang tersedia.

Meski seru, sayangnya berburu makanan di Tongin Market, akan menjadi cukup tricky bagi wisawatan Muslim. Kamu harus benar-benar teliti memilih makanan yang tidak mengandung daging babi. Kemampuan penjual yang minim berbahasa Inggris membuat kamu harus mengeluarkan usaha ekstra untuk bisa berkomunikasi dengan mereka.

Namun, keterbatasan bahasa tentu bukan menjadi alasan untuk tidak mengunjungi dan merasakan keseruan berburu makanan tradisional Korea dengan cara yang unik. Tertarik mencoba wisata anti-mainstream ke pasar tradisional di Korea Selatan?